Oktober 24, 2021

onechieknews

onechieknews.com

Kala Pendemi/Wabah Cacar Pernah Menyerang Kroe Tahun 1882

Spread the love
921 Views

onecheik news- Pesisir Barat— Makin masif nya penyebaran virus COVID-19, tampak kita perlu kilas balik dalam sejarah pandemi yang pernah mewabah di Nusantara dulu. Kasus Flu spanyol tahun 1918, yang merenggut hampir 15% dari populasi di beberapa daerah di Hindia Belanda.

Dan dalam catatan kali ini, akan disajikan wabah cacar 1800-an, dan ini pun tercatat Kroe/Krui sekarang menjadi Kabupaten Pesisir Barat juga terkena imbasnya.

Dalam catatan GENEESKUNDIG TIJDSCHRIFT VOOR NEDERLANSCH-INDIE. (JURNAL KESEHATAN HINDIA BELANDA) YANG TERBIT 1 JANUARI 1882, ditulis telah terjadi wabah cacar, untuk afdeeling Kroe, Benkoelen sebanyak 2493 orang dirawat dan 749 meninggal dunia.

Saat baru datang di tanah Djawa, John Crawfurd, dokter berkebangsaan Inggris pada tahun 1811, wabah cacar mengganas di Hindia Belanda (sebutan Indonesia waktu itu). Bahkan tingkat kematian waktu itu hingga 10-15 % dari populasi beberapa daerah di Hindia Belanda termasuk Kroe, waktu itu masih masuk wilayah keresidenan Bengkulu (afdeeling Benkoelen).

Seperti dikutip dari https://historia.id/sains/articles/upaya-memberantas-cacar-DbeG0; Usaha penanggulangan cacar pun sudah dilakukan sejak penyakit ini muncul. Sebelum vaksin ditemukan, variolasi jadi langkah medis pertama untuk pencegahan dan penanganan cacar. Variolasi dilakukan dengan menginfeksi pasien dengan virus cacar berkadar ringan. Tubuh pasien yang terpapar cacar ringan akan membangun antibodi yang menghindarkan pasien dari penyakit cacar parah yang mematikan.

Vaksin cacar yang ditemukan pada akhir abad ke-18, baru digunakan di Hindia Belanda pada awal abad ke-19. Vaksin cacar pertama tiba di Batavia pada Juni 1804 dengan diangkut kapal Elisabeth dari Pulau Isle de France. Sebelum sampai ke Batavia, vaksin ini dibawa dari pusat pengembangan vaksin di Jenewa, kemudian dikirim ke Baghdad dan Basra, lalu singgah ke India. Dari India, vaksin ini dibawa ke Isle de France lalu diteruskan ke Hindia.

Lantaran cepatnya virus cacar menyebar, pemerintah kolonial mengirim banyak dokter yang semua orang Belanda ke berbagai daerah. Namun jumlahnya tetap tak memadai, terlebih ditambah dengan banyaknya dokter yang enggan ke pelosok dan memilih menetap di kota. Para pribumi di kampung pun banyak yang meninggal akibat cacar.

Untuk menanganinya, pemerintah lalu mendirikan Sekolah Dokter Djawa di Batavia pada 1851. Pemerintah menanggung seluruh biaya pendidikan dengan masa studi 2 tahun dan 17 mata pelajaran yang disampaikan dengan bahasa Melayu itu. Para murid tinggal di asrama.

Sementara dalam Jurnal Kesehatan Hindia Belanda Yang terbit 1 Januari 1882, tercatat di Kroe akibat pandemi cacar ini, tercatat 2493 orang dirawat dan 749 meninggal dunia

sumber :

https://historia.id/sains/articles/upaya-memberantas-cacar-DbeG0

https://www.delpher.nl/

Print Friendly, PDF & Email
Please follow and like us:
RSS
Follow by Email